Muhammad Sandy Cesaro

Minggu, 11 Desember 2016

Beberpa transfer pemain "MAHAL" yang gagal di Chelsea



Pada kali ini saya akan sedikit mengoreksi beberapa transfer gagal Chelsea di era Roman Abramovich dan para petinggi di Stamford Bridge kerap secara tidak masuk akal menghargai seorang pemain melebihi nilai sebenarnya, atau dari kontribusi minim yang mereka berikan selama berseragam The Blues Chelsea. Namun, dalam beberapa kesempatan lainnya The Blues juga bisa mendapatkan berlian berharga semacam Michael Ballack, Gianluca Vialli, dan Ruud Gullit yang bisa didapatkan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Berikut adalah nama-nama yang pernah menjalani karier bak mimpi buruk di Stamford Bridge.

1. Adrian Mutu
Tak akan ada yang memprotes pembelian Adrian Mutu yang senilai £15,8 juta sampai dia menciptakan terlalu banyak masalah di Stamford Bridge. 
Dibeli pada 2003 dari Parma, Mutu tampil menjanjikan di awalnya, di mana tiga gol dalam empat laga tampak membenarkan harga mahalnya saat itu. Tapi ia kemudian hanya mencetak tujuh gol tambahan di 32 laga selanjutnya dan tag harganya pun mulai dipertanyakan.
Kemudian, masalah profesionalisme mulai menjangkiti pria asal Rumania ini saat ia dituduh berpura-pura cedera ketika diminta memperkuat negaranya pada 2004 dan membuat manajer baru saat itu, Jose Mourinho, merasa terpojok. Konflik Mutu di Chelsea menyentuh titik puncaknya saat ia gagal dalam tes penggunaan obat-obatan di mana ia ketahuan positif mengonsumsi kokain. 
Chelsea bertindak cepat dengan memutus kontrak Mutu pada Oktober 2004 dan FA memberikan skorsing tujuh bulan padanya. Pada musim dingin 2005 ia hengkang ke Juventus secara bebas transfer dengan menanggung tuntutan sebesar 16 juta pound dari The Blues. 
Ia sukses membawa Juventus juara selama dua musim beruntun, yang sayangnya kemudian dicopot karena skandal calciopoli. 
Ia melanjutkan karier di Fiorentina selama lima musim (2006-2011), lalu menuju Cesena, Ajaccio, Petrolul Ploiesti, sebelum menikmati satu tahun di Indian Super League bersama Pune City pada 2015. Ia lalu kembali ke Rumania untuk memperkuat ASA Targu Mures. 

2. Shaun Wright-Phillips 
Shaun Wright-Phillips merupakan salah satu pemain Inggris yang dulunya digadang-gadang bakal sukses di usia muda. Setelah dimainkan sebagai wing-back oleh Kevin Keegan di Manchester City, permainan SWP menarik perhatian Chelsea dan mereka memutuskan untuk membelinya pada 2005 dengan harga £21 juta. 
Sayangnya, harga setinggi itu tak bisa dibalas dengan performa menawan. Pemain kelahiran 25 Oktober 1981 itu total bermain sebanyak 124 kali dan mencetak 10 gol selama tiga musim. Kesempatan bermain yang didapatkannya memang tergolong banyak untuk dikatakan sebagai transfer gagal, tapi level performanya tak seperti yang diharapkan. Ia kembali memperkuat Manchester City pada 2008 hingga 2011.
Ia menikmati empat musim yang biasa-biasa saja dengan QPR sebelum akhirnya mendarat di MLS (Amerika Serikat) bersama New York Red Bull sejak 2015. Kinerja yang tak memuaskan di Chelsea juga membuat keempatan SWP di timnas Inggris cukup terbatas. Ia total hanya tampil sebanyak 36 kali dari rentang 2004 hingga 2010. 

3. Juan Sebastian Veron 
Chelsea di awal kepemilikan Roman Abramovich jelas bukan klub yang bisa belajar dari kegagalan rivalnya. Mereka memutuskan membeli gelandang Argentina, Juan Sebastian Veron dari Manchester United setelah hanya tampil sebanyak 51 kali dalam dua musim pada 2003. The Blues membayar £15 juta kepada United dengan harapan Veron bisa mengembalikan nama besarnya di Stamford Bridge. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. 
Veron sepertinya tidak berjodoh dengan karier yang gemilang di Inggris. Ia hanya bermain sebanyak tujuh kali di Chelsea dan Jose Mourinho bahkan tak sedikit pun memberinya kesempatan untuk masuk skuatnya. Ia menjalani masa peminjaman selama dua musim di Inter dan semusim di klub masa mudanya, Estudiantes, pada 2006 sebelum statusnya dipermanenkan. 
Ia menjalani empat musim di sana, mempersembahkan dua trofi Apertura dan satu gelar Copa Libertadores meski kontribusinya tak terlalu besar untuk pencapaian trofi yang disebutkan pertama. 
Pada 2012 ia menikmati satu periode singkat bersama Brandsen sebelum kembali ke Estudiantes sebagai Direktur Olahraga yang bekerja tanpa menerima bayaran.

4. Andriy Shevchenko  
Performa Didier Drogba yang tidak terlalu produktif di dua musim pertamanya sejak dibeli dari Marseille pada 2004 membuat petinggi Chelsea, dan tentunya Roman Abramovich, akhirnya mendatangkan Andriy Shevchenko. 
Sheva, dengan kesuksesan yang telah diraihnya bersama AC Milan boleh dipandang sebagai proyek ambisius ketimbang kebijakan transfer yang melibatkan hubungan pertemanan dengan Roman Abramovich. Namun, pamornya sebagai striker produktif yang berbahaya di Milan tak membuat Jose Mourinho bergeming. Bagi The Special One, Drogba adalah striker utama timnya dan ironisnya striker Pantai Gading itu justru sukses menjadi top skorer Premier League di musim pertama kedatangan Sheva. 
Setelah bermain 51 kali dan mencetak 14 gol di musim pertamanya di London, kesempatan bermain Sheva kian menyusut hingga separuhnya di musim berikutnya. Hengkangnya Mourinho di awal musim sama sekali tak mengubah peruntungan pria asal Ukraina ini. 
Ia kemudian dipinjamkan ke AC Milan pada 2008 selama semusim sebelum kembali ke Chelsea lagi untuk bermain satu laga dan dijual ke Dynamo Kyiv pada 28 Agustus 2009. Padahal Carlo Ancelotti yang saat itu menjadi manajer baru The Blues adalah mantan pelatih Sheva di Milan pada periode tersukses dalam kariernya. 
Sheva pensiun pada 2012 untuk terjun ke dunia politik, namun usai gelaran Euro 2016, pria kelahiran 29 September 1976 ini diresmikan sebagai pelatih tim nasional Ukraina. 

5. Fernando Torres 
Tak ada transfer yang jauh lebih mengejutkan hingga saat ini di Premier League ketimbang cerita kepindahan Fernando Torres dari Liverpool ke Chelsea pada Januari 2011. Efek kejut yang dirasakan tak berhenti pada nilai transfer sebesar £50 juta, juga bahwa rivalitas kedua tim yang memanas sejak awal 2000an membuat kepindahan Torres seperti sebuah pengkhianatan, tapi juga fakta bahwa Torres membutuhkan empat bulan untuk menceploskan gol pertamanya untuk The Blues. Gol itu bersarang ke gawang West Ham pada April 2011, dan menjadi satu-satunya gol di enam bulan pertamanya. 
Menjalani musim penuh pertamanya, paceklik gol masih dialami Torres. Ia tak lagi ganas menakut-nakuti bek lawan dan cenderung mudah melepas peluang bagus di depan mata. Kritikan deras meluncur, tapi satu momen tak terlupakan membuatnya mendapatkan maaf dari sebagian besar suporter Chelsea. 
Golnya ke gawang Barcelona di semifinal Liga Champions 2011/12 adalah gol yang mengamankan tiket final kedua The Blues di ajang bergengsi tersebut. Sebenarnya dengan skor tertinggal 2-1 Chelsea tetap akan bisa lolos ke final mengingat mereka sudah menang 1-0 di leg pertama. Tapi, dengan serangan para pemain Barcelona terus menghujam pertahanan The Blues, gol Torres yang tercipta jelang laga usai jelas menghabisi peluang Barcelona dan menciptakan histeria di kalangan suporter Chelsea. 
Chelsea kemudian memenangkan trofi Liga Champions pertama mereka, dan Torres, meski hanya menjadi pemain pengganti di babak final yang berlanjut hingga adu penalti tersebut, adalah salah satu pahlawan yang tak akan dilupakan pendukung The Blues. Setahun berselang ia mencetak gol di final Europa League dan menggondol medali Eropa keduanya di level klub. 
Pada musim 2014/15, Jose Mourinho yang melakukan perombakan total di lini depan timnya memutuskan meminjamkan Torres ke AC Milan selama semusim sebelum statusnya dipermanenkan. Ia kemudian dipinjamkan ke Atletico Madrid pada 2015/16 dan klub asalnya itu memutuskan untuk membelinya setelah kontribusinya yang cukup memuaskan. Ia membawa Atletico ke final Liga Champions di musim tersebut, tapi kalah lewat adu penalti dari Real MadridSelama memperkuat Chelsea, Torres berhasil mencetak 45 gol dari 172 penampilan

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Kritik dan Saran