Pada kali ini saya akan sedikit mengoreksi beberapa
transfer gagal Chelsea di
era Roman Abramovich dan para petinggi di Stamford Bridge kerap secara tidak
masuk akal menghargai seorang pemain melebihi nilai sebenarnya, atau dari
kontribusi minim yang mereka berikan selama berseragam The Blues Chelsea.
Namun, dalam beberapa kesempatan lainnya The Blues juga bisa mendapatkan berlian
berharga semacam Michael Ballack, Gianluca Vialli, dan Ruud Gullit yang bisa
didapatkan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Berikut adalah nama-nama yang pernah menjalani karier
bak mimpi buruk di Stamford Bridge.
1. Adrian Mutu
Tak akan ada yang memprotes
pembelian Adrian Mutu yang senilai £15,8 juta sampai dia menciptakan terlalu
banyak masalah di Stamford Bridge.
Dibeli pada 2003 dari
Parma, Mutu tampil menjanjikan di awalnya, di mana tiga gol dalam empat laga
tampak membenarkan harga mahalnya saat itu. Tapi ia kemudian hanya mencetak
tujuh gol tambahan di 32 laga selanjutnya dan tag harganya pun mulai
dipertanyakan.
Kemudian, masalah
profesionalisme mulai menjangkiti pria asal Rumania ini saat ia
dituduh berpura-pura cedera ketika diminta memperkuat negaranya pada 2004 dan
membuat manajer baru saat itu, Jose Mourinho, merasa terpojok. Konflik Mutu di
Chelsea menyentuh titik puncaknya saat ia gagal dalam tes penggunaan
obat-obatan di mana ia ketahuan positif mengonsumsi kokain.
Chelsea bertindak
cepat dengan memutus kontrak Mutu pada Oktober 2004 dan FA memberikan skorsing
tujuh bulan padanya. Pada musim dingin 2005 ia hengkang ke Juventus secara
bebas transfer dengan menanggung tuntutan sebesar 16 juta pound dari The
Blues.
Ia sukses membawa
Juventus juara selama dua musim beruntun, yang sayangnya kemudian dicopot
karena skandal calciopoli.
Ia melanjutkan karier
di Fiorentina selama lima musim (2006-2011), lalu menuju Cesena,
Ajaccio, Petrolul Ploiesti, sebelum menikmati satu tahun di Indian Super League
bersama Pune City pada 2015. Ia lalu kembali ke Rumania untuk memperkuat ASA
Targu Mures.
2. Shaun Wright-Phillips
Shaun Wright-Phillips
merupakan salah satu pemain Inggris yang dulunya digadang-gadang bakal sukses
di usia muda. Setelah dimainkan
sebagai wing-back oleh Kevin Keegan di Manchester City, permainan SWP menarik perhatian Chelsea dan mereka
memutuskan untuk membelinya pada 2005 dengan harga £21 juta.
Sayangnya, harga
setinggi itu tak bisa dibalas dengan performa menawan. Pemain kelahiran 25
Oktober 1981 itu total bermain sebanyak 124 kali dan mencetak 10 gol selama
tiga musim. Kesempatan bermain yang didapatkannya memang tergolong banyak untuk
dikatakan sebagai transfer gagal, tapi level performanya tak seperti yang
diharapkan. Ia kembali memperkuat Manchester City pada 2008 hingga 2011.
Ia menikmati empat
musim yang biasa-biasa saja dengan QPR sebelum akhirnya
mendarat di MLS (Amerika Serikat)
bersama New York Red Bull sejak 2015. Kinerja yang tak
memuaskan di Chelsea juga membuat keempatan SWP di timnas Inggris cukup terbatas. Ia total hanya tampil sebanyak 36 kali dari rentang
2004 hingga 2010.
3. Juan Sebastian
Veron
Chelsea di awal
kepemilikan Roman Abramovich jelas bukan klub yang bisa belajar dari kegagalan
rivalnya. Mereka memutuskan membeli gelandang Argentina, Juan Sebastian Veron
dari Manchester
United setelah hanya tampil sebanyak 51 kali
dalam dua musim pada 2003. The Blues membayar £15
juta kepada United dengan harapan Veron bisa mengembalikan nama besarnya di
Stamford Bridge. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Veron sepertinya tidak
berjodoh dengan karier yang gemilang di Inggris. Ia hanya bermain sebanyak tujuh
kali di Chelsea dan Jose Mourinho bahkan tak sedikit pun memberinya kesempatan
untuk masuk skuatnya. Ia menjalani masa peminjaman selama dua musim di Inter
dan semusim di klub masa mudanya, Estudiantes, pada 2006 sebelum statusnya
dipermanenkan.
Ia menjalani empat
musim di sana, mempersembahkan dua trofi Apertura dan satu gelar Copa
Libertadores meski kontribusinya tak terlalu besar untuk pencapaian trofi yang
disebutkan pertama.
Pada 2012 ia menikmati
satu periode singkat bersama Brandsen sebelum kembali ke Estudiantes sebagai
Direktur Olahraga yang bekerja tanpa menerima bayaran.
4. Andriy Shevchenko
Performa Didier Drogba
yang tidak terlalu produktif di dua musim pertamanya sejak dibeli dari
Marseille pada 2004 membuat petinggi Chelsea, dan tentunya Roman Abramovich,
akhirnya mendatangkan Andriy Shevchenko.
Sheva, dengan
kesuksesan yang telah diraihnya bersama AC Milan boleh dipandang sebagai proyek ambisius ketimbang
kebijakan transfer yang melibatkan hubungan pertemanan dengan Roman
Abramovich. Namun, pamornya
sebagai striker produktif yang berbahaya di Milan tak membuat Jose Mourinho
bergeming. Bagi The Special One, Drogba adalah striker utama timnya dan
ironisnya striker Pantai Gading itu justru sukses menjadi top skorer Premier
League di musim pertama kedatangan Sheva.
Setelah bermain 51 kali dan mencetak 14 gol di musim pertamanya
di London, kesempatan bermain Sheva kian menyusut hingga separuhnya di musim
berikutnya. Hengkangnya Mourinho di awal musim sama sekali tak mengubah
peruntungan pria asal Ukraina ini.
Ia kemudian
dipinjamkan ke AC Milan pada 2008 selama semusim sebelum kembali ke Chelsea
lagi untuk bermain satu laga dan dijual ke Dynamo Kyiv pada 28 Agustus 2009.
Padahal Carlo Ancelotti yang saat itu menjadi manajer baru The Blues adalah
mantan pelatih Sheva di Milan pada periode tersukses dalam kariernya.
Sheva pensiun pada
2012 untuk terjun ke dunia politik, namun usai gelaran Euro 2016, pria
kelahiran 29 September 1976 ini diresmikan sebagai pelatih tim nasional Ukraina.
5. Fernando
Torres
Tak ada transfer yang
jauh lebih mengejutkan hingga saat ini di Premier League ketimbang cerita kepindahan
Fernando Torres dari Liverpool ke Chelsea pada Januari
2011. Efek kejut yang
dirasakan tak berhenti pada nilai transfer sebesar £50 juta, juga bahwa
rivalitas kedua tim yang memanas sejak awal 2000an membuat kepindahan Torres
seperti sebuah pengkhianatan, tapi juga fakta bahwa Torres membutuhkan empat
bulan untuk menceploskan gol pertamanya untuk The Blues. Gol itu bersarang ke
gawang West Ham pada April 2011, dan menjadi satu-satunya gol di enam bulan
pertamanya.
Menjalani musim penuh
pertamanya, paceklik gol masih dialami Torres. Ia tak lagi ganas menakut-nakuti
bek lawan dan cenderung mudah melepas peluang bagus di depan mata. Kritikan
deras meluncur, tapi satu momen tak terlupakan membuatnya mendapatkan maaf dari
sebagian besar suporter Chelsea.
Golnya ke gawang Barcelona di semifinal Liga
Champions 2011/12 adalah gol yang
mengamankan tiket final kedua The Blues di ajang bergengsi tersebut. Sebenarnya
dengan skor tertinggal 2-1 Chelsea tetap akan bisa lolos ke final mengingat
mereka sudah menang 1-0 di leg pertama. Tapi, dengan serangan para pemain
Barcelona terus menghujam pertahanan The Blues, gol Torres yang tercipta jelang
laga usai jelas menghabisi peluang Barcelona dan menciptakan histeria di
kalangan suporter Chelsea.
Chelsea kemudian
memenangkan trofi Liga Champions pertama mereka, dan Torres, meski hanya
menjadi pemain pengganti di babak final yang berlanjut hingga adu penalti
tersebut, adalah salah satu pahlawan yang tak akan dilupakan pendukung The
Blues. Setahun berselang ia mencetak gol di final Europa League dan menggondol
medali Eropa keduanya di level klub.
Pada musim 2014/15,
Jose Mourinho yang melakukan perombakan total di lini depan timnya memutuskan
meminjamkan Torres ke AC Milan selama semusim sebelum statusnya dipermanenkan.
Ia kemudian dipinjamkan ke Atletico Madrid pada 2015/16 dan klub asalnya itu memutuskan untuk
membelinya setelah kontribusinya yang cukup memuaskan. Ia membawa Atletico ke final
Liga Champions di musim tersebut, tapi kalah lewat adu penalti dari Real Madrid. Selama memperkuat
Chelsea, Torres berhasil mencetak 45 gol dari 172 penampilan